Pendakian Pertama, Gunung Gede yang Ditaklukan Luka
Hai teman-teman, barangkali lupa, perkenalkan aku Tia si manusia yang sudah merasa jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Si Wanita yang sudah melalui banyak hal tapi masih saja ingin mencoba berbagai hal. Orang ini sekarang sudah lebih jujur terhadap dirinya sendiri, sudah mulai mau melakukan apapun yang dirinya suka tanpa terhalang batasan ekspektasi orang lain. Hehe, ya aku Tia Wanita yang sedang merasa cukup dengan kehidupan yang tengah dihadapinya.
Aku ingin mengajak kalian ke satu tahun yang lalu. Tenang,
ini bukan sebuah dongeng misteri apalagi horror. Aku ingin mengajak kalian
jalan-jalan ke salah satu atap bumi di Sukabumi yaitu Gunung Gede, sebuah
pendakian yang aku awali dengan harapan bisa sembuh. Sembuh dari apa? Simak
dong.
Awal Tahun 2020. Tahun yang cukup berat, aku
rasa bukan hanya untuk aku tapi untuk semua orang di dunia. Pandemi benar-benar
melumpuhkan usia emasku pada saat itu. Usia di mana aku sedang mengobarkan api
semangat. Tiba-tiba kita diharuskan melakukan segala hal dari rumah.
Aku engga menyalahkan siapapun, tapi terkadang aku merasa keadaan tidak adil
padaku. Rumah pelosok tanpa sinyal dengan kewajiban terhadap orang tua untuk
tetap kuliah. Bukan hanya fisik yang bekerja mencari tempat tertinggi, tapi
otak yang dipaksa berfikir lebih keras lagi. Tapi aku cukup menikmati, beberapa
berita di tv membuatku lebih bersyukur masih merasakan nikmatnya sekolah tinggi.
Jika
hal itu tak cukup membuatmu merasa mentalku teruji, maka kehilangan membuatku
merasa hidup tanpa tujuan. Ya di tengah badai pandemi tuhan merenggut beberapa
orang terdekatku, syukur hanya sebatas putus hubungan, di beberapa waktu tuhan
hadirkan kenyataan berpisah untuk selama-lamanya. Bak sudah jatuh tertimpa
tangga, aku merasa menjadi seseorang tanpa jiwa. Si tidak enakan ini
kebingungan memperbaiki suasana, suasana rumah maupun suasana hatinya.
Butuh waktu beberapa bulan untuk bisa menerima bahwa
segala yang memang ditakdirkan untukmu akan kembali sekalipun ia pergi dalam
bentuk apapun. Aku memutuskan untuk melangkah lagi. Tuhan baik, setelah luka
yang terus menganga itu Ia beri aku sibuk luar biasa. Kadang untuk menyembuhkan
luka tak terlihat aku perlu obat bebentuk capek fisik. Aku menjadi manusia yang
lebih bersyukur lagi kala itu. Salah seorang mengajakku mendaki.
Salah satu mimpi yang ingin aku gapai bersama seseorang
kala itu. Tapi Tuhan baik, dipisahkannya aku dengan dia dan diberikannya aku
kesempatan untuk bisa mencobanya. Bersama orang-orang hebat aku mendaki salah
satu atap Jawa Barat. Gunung Gede via Putri.
Kalau ditanya perasaannya gimana? Seneng banget pasti dan super super excited, sampai kakak kosan ikut riweuh. Yaiyalah gimana gak riweuh semua peralatan aku pinjam dia wkwk. (aku makasi banget sama ka Nita buat sepatu, tas, matras, dan lampunya). Oke lanjut, berangkat malem dari Ciputat abis itu lanjut ke basecamp via gunung putri itu kira-kira sampai jam 4 pagian. Packing-packing, sarapan, dan ya mulai mendaki.
| lagi ngobrol sama Edelweis |
Kalau via putri itu pertama jalan langsung disuguhi
tanjakan yang ah mantap. Aku yang pertama kali langsung panik aja gitu “ett
mendaki seengap ini ya haha” tapi jalan-jalan terus akhirnya terbiasa juga. Capek
ya pasti, tapi dinikmati aja kapan lagi yakaan naik gunung (mikirnya gitu wkwk).
Tapi tanjakan itu ga bakal kerasa karena disuguhi pemandangan ladang pesawahan
gitu. Oiya nanti kita simaksinya di selepas tanjakan itu yaa. Ga lama dari situ
sampai deh di pos 1 wkwk. masih ada sinyal nih di sini.
Jujur aku udah banyak lupanya tentang perjalanan ke
sana hehe. Yang aku ingat hanya hujan membersamai perjalanan waktu naik juga
waktu turun. Ett jangan lupa foto di sini biar balik lagi katanya.
Aku sempat ga
ngerti kenapa perjalanan yang katanya estimasi 8 jam sampe, ini kita sampe malah
gelap hamper 12 jam. Mungkin karena hujan dan kita banyak berhenti aku ga
paham. Sampai Suryakencana aja udah seneng banget, sempat punya mimpi bisa liat
bunga abadi, Edelweis terwujud juga, dan lagi meski tak bersama dia. Walaupun gelap,
kabut, dan masih sedikit gerimis kita tetap diriin tenda, masak, makan, tidur
ahaha.
Pagi menjelang yakaaan. Ternyata kita tuh kaya di
tengah-tengah bukit gituu dan pemandangannya bagus banget, matahari bersinar
terang dan hilir mudik orang mulai keliatan. (gak kaya pas malem kabut, gelap).
Oiya lupa bilang, yang bikin gak pernah ngerasa capek banget di jalur itu ya kata-kata
semangat dari pendaki lain. Pas disuruh ambil air ke sungai jadi mau banget. Gass
| Sebentar lagi diprank cuaca pas naik ke puncak di belakang aku |
Oiya jadi setau aku di Gunung Gede ini sumber airnya cuma ada satu, ya di sungai ini. Di blok surken yang sebelah sana ya (bingung jelasinnya). Jadi di Surken itu bisa diriin tenda di deket pintu masuk pas kita datang atau di tempat kedua yang lebih dekat dengan jalur trekking ke puncak (harus jalan lagi sekitar 15 menit). Nah, sumber air ini ada di tempat yang kedua.
Oke udahan foto-foto sambil ambil airnya. Lepas itu
kita masak, makan lagi dan memutuskan untuk trekking siang-siang. Kira-kira 2
jam untuk sampai puncak dan ya pemandangannya kabut semua hehe. Cuaca di alam
bebas benar-benar ga bisa diprediksi banget. Pagi cerah, eh pas di atas malah
kabut banget. Tapi aku happy, bener-bener prinsipnya pas itu ya “ayok nikmatin
aja kita gatau kapan lagi akan ke sini” jadi apapun keadaanya ya tetep happy
alhamdulillah.
| Puncaak |
Niat hati akan menunggu kabut turun, nyatanya sampai kita turun tuh kabut masih awet aja. bergegas turun dan persiapan pulang. Bagian paling menyenangkan si ini karena bisa lari-lari gitu sambil ujan-ujanan.
| foto pas turun masih kabut heu |
Pendakian pertama yang yaa cukup berkesan, karena yang kukejar bukan puncak, sunrise, maupun pemandangan di atas. Tapi lebih ke perjalanannya. tak peduli seberapa lelah, setidaknya ada hal yang sedikit terbentur sampai pada akhirnya menyerahkan semuanya saja pada Tuhan. Perlangkah kaki bener-benar aku niatkan ingin membayar lunas semua janji yang sempat terucap tapi belum ditepati. Bagaimana pun, itu hutang pada alam yang kita sebut dan tak apa jika harus aku yang membayarnya sendirian.
hehe udah ah, makasi udah mau baca cerita yang sedikit mellow tapi banyak gak jelasnya yaa. percaya deh membangun cerita dari hal yang sudah terlewati itu butuh keberanian buat membuka kembali, entah itu suka, sedih, sakit maupun bahagia. itu bukan hal mudah huhu. OKe, sekian dan Terimakasii. See you di celotehan-celotehan aku berikutnyaa.
Komentar
Posting Komentar