PLOT TWIST
Ini setelah
aku membereskan semuanya, dan aku berfikir untuk menuliskannya.
It’s been
11 years dan di awal tahun 2024 memutuskan untuk ‘Pulang’, Pulang yang sebenarnya.
Keputusan terbesar di awal tahun yang mana hal ini tidak pernah aku pikirkan
sekalipun. Aku hanya berfikir untun pindah kota lagi? Atau kemana pun yang penting
bukan rumah.
Ya, rumahku
kadang terlalu berisik, aku tidak suka dibangga-banggakan, aku tidak suka
dikasihani, aku lebih nyaman tidak dilihat. Ternyata sudah selama itu aku
bersembunyi, di tempat yang tidak sunyi juga sebetulnya. Tapi dari sana aku
merasa bahwa apa yang aku hadapi tidak sebesar cerita-cerita yang aku dengar
dari orang-orang yang kutemui di perjalanan.
Ketika aku
menata kembali dekorasi kamar, baju-baju, dan barang-barang lainnya pikiranku
menerawang jauh ke 11 tahun yang lalu, seorang gadis kecil yang baru lulus
sekolah dasar memutuskan untuk keluar dari rumah. Ya, di rumah yang tenang ini
tak jarang aku mendengar tangisan, suara kaca pecah, bentakan, amarah, sesuatu
yang dipendam, entahlah hanya itu yang teringat. Tentang rasa sakit, tapi
perlahan waktu membayarnya dengan banyaknya cinta yang tak jarang juga
dibarengi dengan luka.
Ku pikir
semua akan berakhir di Sekolah Menengah Pertama, nyatanya diri ini lebih suka
bersembunyi-sembunyi, menyembunyikan luka-luka sambil sesekali berbagi cinta. Meski
tidak hebat, tapi aku ingin setia seperti namaku. Beberapa orang yang kutemui
menorehkan ingatan yang tidak baik, tapi aku tidak pernah bisa memandang
seseorang itu jahat. Barangkali memang sudah habis masanya. Dan tiba-tiba saat
ini aku berfikir, berarti aku harus mencari cinta yang tidak akan lekang oleh
waktu, di mana kira-kira hehe.
Tiba di
waktu aku beranjak dewasa, meski kadang aku merasa sudah didewasakan oleh
keadaan, tapi aku tidak mau mendahului usiaku. Aku ingin melanjutkan sekolah
tinggi, aku tidak ingin punya rumah seperti rumahku sekarang. Rumahku harus
lebih baik, tidak boleh terlalu berisik, tidak juga boleh terlalu sunyi. Rumahku
harus cukup saling mengisi, oleh cinta, canda gurau, dan obrolan-obrolan serius
sambil sesekali bertengar kecil. Rumahku tidak boleh terlalu banyak kata maaf
yang terucap maupun tidak, rumahku harus penuh rasa syukur dan terimakasih.
Berdasar luka
aku melangkah lebih jauh lagi, tidak pernah menyangka akan menemui lebih banyak
luka lagi. Tapi di samping itu banyak pula hal-hal baik yang tidak bisa aku anggap
hilang. Teman yang baik, lingkungan yang mendukung, dari hal sesederhana bertemu
ibu warteg yang baik sekali hingga serumit saling mencintai tapi tidak bisa
saling memiliki. Semua aku anggap hal-hal baik yang membentukku menjadi saat
ini.
Luka yang membentuk
dan mewujudkan mimpi-mimpi, saking seringnya ketika aku mendapati hal baik
tanpa sakit terlebih dahulu, aku heran dan merasa tidak pantas. Aku tumbuh
dengan membiasakan hal-hal menyakitkan, meredam rasa marah yang sering tidak
bisa disalurkan, aku tumbuh dengan diam dan cerita-cerita manis. Ya, cerita menyakitkan
yang aku yakini akan menemukan akhir bahagianya. Apa bahagia ada? Rasanya bahagia
yang kutemui adalah serangkaian kejadian atau hal yang lagi-lagi harus ku
sederhanakan.
Aku menerima
sepenuh hati rasa sakit yang kurasa, rasa kehilangan, pun bahagia itu sendiri. di
perjalanan proses itu aku banyak menelan sendiri luka, aku memproses banyaak
hal agar tidak sampai ke hati, aku berjalan harus atas dasar diri sendiri,
walau kadang jadi boomerang aku harus kokoh, dan ya ini aku gadis kecil itu.
Masih akan
selalu berproses meraih bahagia dengan terus mengulang hal yang sama. Apa yang
tidak perlu dipikirkan tidak usah didalami, apa yang tidak perlu diketahui jika
sampai infonya aku cukup melupakannya dan tidak usah dibesar-besarkan, menyederhanakan
segala hal, memeluk rasa takut, tetap berbagi senyum bahagia, bersyukur atas
apapun, yang terjadi adalah yang terbaik, daaan banyak hal lagi (mari kita cari
tahu rahasia-rahasia kehidupan ini).
Keputusan ini
menyadarkan aku tentang satu hal, tidak bisa selamanya kita lari. Lantas dengan
berlari dan bersembunyi semua selesai? Sementara waktu untuk menenangkan diri
mungkin tidak apa. Meskin sementara waktu itu memakan waktu 11 tahun lamanya. Maafkan
dan coba untuk berteman dengan penerimaan. Untuk segala amarah yang sempat
keluar aku meminta maaf kepada rumah ini, tapi aku tidak salah aku hanya anak
kecil yang memproses apa yang terdengar dan terlihat. Sekarang aku sudah mengerti,
yang tidak terlihat bahkan lebih berarti. Dan untuk persembunyian yang tidak
sembunyi-sembunyi amat ini aku juga tidak menyesal hehe, aku seneng bisa
bertemu banyak manusia dengan beragam isi kepalanya, dengan beragam ceritanya,
aku juga tidak baik, tapi bersyukur bisa mengenal mereka.
Untuk sementara
waktu, mari tuntaskan hal-hal yang belum selesai di sini Tia, setelah ini kita
mengudara lebih lepas lagi. Selamat, karena sudah berani memutuskan hal yang
bahkan tidak pernah kamu bayangkan. Semoga ke depan plot twist-plot twist kehidupan
yang lebih menyenangkan datang di waktunya yang tepat ya! Mimpimu banyak,
kurangi jam tidur yang tidak perlu ya tia hehe.
Komentar
Posting Komentar