Teneel Explorer -Part 1 : Kompleks Parlemen


Yang Membawaku Kepadamu, Kompleks Parlemen

Pada sebuah tempat yang membayangkannya saja aku berasa bermimpi,  iya. Gedung DPR/MPR RI.  Hari itu Rabu, 10 april 2019 aku menorehkan pengalaman baru di tempat baru. Merupakan suatu kehormatan aku dan tiga teman lainnya, bisa menembus gerbang Kompleks Parlemen.

by : teneel


Jauh sebelum hari itu terjadi, kita ditugaskan untuk mewawancarai salah satu Wartawan Republika yang kebetulan alumni dari kampus aku, dan beliau meminta untuk mewawancarainya di gedung DPR.
Tepat pukul 2 siang kami melaju ke sana. Dengan menggunakan Go-Car (berhubung berempat urunan lah yaa bayarnya hehe) dari Ciputat menuju stasiun Pondok Ranji, lalu naik Commuter Line atau KRL tujuan stasiun Tanah Abang, Kami turun di St. Palmerah. Yaa kira-kira 15 menitan lah.  Stasiun Palmerah? Unik sih, Stasiunnya luas, fasilitasnya juga lengkap, ada Musholla, ada Indomaret ,banyak deh.



Lalu dari situ kita berjalan lagi, dengan so nya, kita yang katanya generasi millennial pake lah tuh Google Maps. Kita mengikuti kemana saja si panah menunjukan jalan yang berupa titik-titik. Dan apa yang terjadi ?? kita salah guys. Kita ngga nyasar, Cuma titik akhir dari Maps itu adalah jeng jeng. Hmm Masjid, aku lupa nama masjidnya pokoknya itu ada di dekat gedung Perhutani. Hee kita ngga kesel tentu, mungkin itu cara Allah mengingatkan kita, hambanya untuk selalu ingat solat guys. Selain itu, mungkin itu juga cara mengingatkan kita untuk bahwasanya berkomunikasi dengan sosial itu lebih baik lho. Apalagi kita lagi di luar kaya gini, yang jarang-jarang kita bisa ketemu banyak orang. Hmm coba deh kalo lagi keluar rumah or kosan tuh, kurang-kurangin main Gadget nya, banyakin sosialisasi. Oke lah buat pengabadian moment mah gapapa.

Selesai sholat kita dapat kabar. Katanya, kata kaka Narsum, yang bisa masuk ke gedung DPRnya Cuma satu orang dongg yaaaah. Akhirnya yang masuk Blue deh, karena memang ini tugas rubriknya Blue, daan aku dan dua temen lainnya, ngikut dia doang hee. Gimana ya? Blue udah duluan karena sama Narsumnya disuruh cepet. Kita bertiga ? Gadis sunda, Gadis Manis, Gadis cantik masa iya ngegembel? Eh maaf maaf. Akhirnya aku memutuskan buat kita kuliner jajanan pinggir jalan, ini diaaa, yak karena prinsip anak kosan itu irit, jadi kulinernya itu aja hmm.




 Kita berjalan, terus berjalan ke depan sesekali berhenti untuk memotret jalanan. Aku memutuskan untuk mendekati dia, iya dia ibu yang kurang lebih umurnya 50 tahun. Ibu Dasmi namanya, dia tengah membersihkan pinggir jalanan kota dengan pakaian serba orange yang di belakangnya aku lupa ada tulisan apa tapi sepertinya itu Satuan yang Ibu ikuti, ibu satu anak ini rutin melakukannya setiap sore hari.  Aku hendak membantunya tapi Ibu Dasmi menolak dia berpesan ‘hati-hati, sekolah  yang bener pake tas yang kenceng, sana main ke Gelora di sana bagus’ dengan kekehan di akhirnya. Akupun ikut larut dalam tawanya. Ah Ibu, aku maunya bantuin Ibu. Berapa kali aku membujuknya untuk membantu, dia tetap berkata tidak. Baiklah bu, aku kalah. Semangat selalu, keluargamu menunggu untuk menyaksikan senja bersama. Pahlawanku.

Karena Blue tak kunjung selesai dan kita mulai bosan dengan jalanan, kita meneruskan perjalanan, ah elah kita tiba di sebuah gerbang ada satpamnya dua kalo ga salah. Kita duduk lagi di pagar-pagar hijau. Aku yang hyperactive haha, (gabisa Cuma duduk aja) aku baru sadar aku di mana. Ketika aku membalikan badan, saat itu juga aku tersadar di depanku berdiri kokoh bangunan yang dulu aku hanya bisa liat di Cover LKS PKN. Aku hanya ingin menangis bahagia saat itu, aku mau ke sana. Tapi inget kata-kata Blue yang bisa masuk ke gedungnya hanya satu orang.

Temanku, Si gadis manis punya inisiatif buat kita nyoba bisa masuk atau engga. Bisa ya syukur engga ya tinggal balik lagii. Gimana coba kelanjutannya? Aaaaaa ternyata Komplek Parlemen ini, punya semacan kartu buat kunjungan.jadi, kita yang mau masuk ke sana tuh bisa, Cuma kartu pengenal kita harus dititipkan di penjaga gerbang tersebut sebagai jaminan yang dituker sama kartu kunjungan. Daaaan ajaibnya lagi, aku itu ngga perlu ngasih kartu pengenal aku buat jaminan, karna aku punya kartu  ajaib haha.

Pertama masuk, kita disuguhkan dengan pemandangan yang MashaAllah luar biasa sekali. Air mancur yang menambah indah estetik gedung-gedung petinggi itu. Aku tidak tertarik dengan foto-foto lagi, naluriku hanya aku ingin sampai pada gedung beratap hijau yang menyerupai kepahan sayap. Gedung MPR RI. Anak pedalaman pasti tahu, gedung itu kerap kali dijadikan ikon sampul sebuah buku kewarganegaraan. Aku ingat orang tua, berkat mereka aku di sini saat ini, gadis manja yang selalu memaksa keinginannya sedang menapaki hal baru, suatu saat orang tua dan adik-adiku harus ke sini juga.
by : Gadis Manis

Setelah sibuk potret sana sini, bait puisi tercipta, hpku mati. Ada seorang sopir taksi yang mengajak bercengkrama, beliau Pa Toto namanya. Sudah mengemudikan Taxi sejak lama. Ayah dari tiga anak ini berasal dari Brebes Jawa Tengah. Beliau hobby nongkrong di Pelataran gedung MPR untuk menikmati sore hari katanya. Hebatnya beliau itu, dia tetap percaya rezeki itu ada dan sudah dibagi oleh yang Kuasa, di tengah maraknya serba Online zaman sekarang, dia tetap mempertahankan untuk mengemudi dan menarik penumpang tanpa bantuan Gadget. Pa Toto sudah membuktikan dengan profesinya, dia mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang S1. Pesan darinya ‘hati-hati, jangan pacaran dulu semangat kuliah biar cepet kerja dan pulang bawa mobil’. Amiin pak terimakasih wejangannya. sungguh pertemuan-pertemuan yang luar biasa.


Hari ini senjaku lebih indah, kupikir. Panggilan-Nya mulai bergema di mana-mana. Yang selalu terbayang hingga saat ini adalah, aku memang tidak bertemu dengan Narsum yang hebat, tapi yang tidak membuatkku berhenti bersyukur adalah aku bertemu dengan orang-orang yang tak kalah hebat. Mereka hebat dengan frame-nya masing-masing. Jadi tidak sabar ingin jadi orang. heyy, kita diciptakan untuk hebat!  Cintai profesimu, nikmati prosesmu, sukses menantimu. Salam, Teneel.

bonus-bonus guys wkwk





Fyi : aku ga foto bapak & ibunya, selain karena beliau gamau, untuk menghormati beliau juga

dari aku yang sedang membaca.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer