Suara dari Malam (Filsafat Islam 22 Juni 2020)

Suara dari Malam

Nama : Tia Nurullatifah
Nim    : 111805111000050

Assalamu'alaikum wr. Wb, selamat malam dunia. Selamat malam kalian semua yang aku pikir kita sedang sama-sama berjuang sekarang. Hai Kamu, Hai bumi. Aku tak ingin menanyakan kabar. Aku sudah tahu jawabnya. Aku harap kau mendengarkanku. 

Mungkin ini akan menjadi catatan terakhirku di salah satu mata kuliah. aku sedang tak ingin menyimpulkan sebuah berita. Aku hanya ingin menyampaikan sejumlah kata. Maaf jika tidak terangkai dengan indah, tapi semoga tersampaikan dengan bijaksana. 

Hai Bumi, tahu ga sudah lebih dari 3 bulan aku, adekku, sahabat-sahabatku dan semua orang ku rasa, mereka merindukan rutinitas yang dulu memang sering membuat lemas. Rindu sapa yang terlontar khas, rindu padat kota yang ahh kadang bikin jengah, juga rindu segala macam rindu. 

Tahu ga? Sudah berapa banyak kata "semua akan berlalu ko" "Semangat, badai kan berlalu" "It's okay semua akan baik-baik saja" Yang aku lontarkan untuk diriku sendiri? Aku rasa semua orang juga mengatakan hal yang sama pada dirinya. Ish atau jangan-jangan hanya aku saja. 

Harus sampai kapan? Menunggu tanpa kepastian? Dulu, menunggu itu menyenangkan. kini aku menunggu sebuah kabar, keadaan, yang aku gatau sampai kapan akan berbalik seperti dulu. Yaaah, aku menunggu masa di mana aku bisa memikirkan masa depan tanpa kebingungan kapan bisa mewujudkannya. Aku menunggu kabar baik setiap waktunya, tapi lagi-lagi kebijakan-kebijakan diperpanjang, Orang-orang mulai geram, dan aku mulai putus asa. 

Segala hal yang tak terlihat kian nyata, ada yang tumbuh dan semakin bersinar, ada yang diam di tempat, dan ada yang semakin merasa gagal. Semuanya seperti persaingan. Apakah hidup seperti itu? HahaHaha.  Beberapa orang tampak menikmatinya, dan tak sedikit juga orang yang mengeluhkannya.

Aku kadang mikir kenapa si ini terjadi disaat aku sedang semangat-semangatnya menjalani hidup, kenapa ini terjadi saat aku dan dia baru saja memulai kisah, kenapa saat di usiaku sedang butuh-butuhnya pendorong?. Daan banyak kenapa lain yang terus bermunculan dalam kepalaku. Mendemo minta diterbangkan katanya. 

Hai, cepat sembuh. Apa kamu tidak lelah? Setiap saat mendengar keluhan-keluhan lelah dari orang yang mengaku kalah, aduan-aduan manusia yang sudak tak bisa menampung kekecewaannya. Aku kira, sudah cukup pembelajaran yang kamu beri untuk semua manusia. Aku kira, sudah cukup membuat semuanya seakan tidak baik-baik saja. Pulanglah, atau setidaknya berkuranglah. Manusia sudah cukup sadar akan kesehatan, akan arti sebuah rindu, arti sebuah kehilangan. Cukup, biarkan biarkan semuanya mmengalir kembali an kamu cukup menemani kami tanpa menghantui dan membuat kami khawatir. Bisa kan?

Biarkan mereka semua melanjutkan mimpi yang sudah dirangkainya, biarkan mereka menemui jumpa setelah ribdu yang mencekiknya. Biarkan mereka mulai mengadu rindunya, mulai berbicara, dan memulai semuanya tanpa khawatir. Tertawa, geram, berdiskusi, menikmati senja, berjalan dan sehat selalu. Ku mohon, beristirahatlah. kami sudah cukup lelah beristirahat yang bukan istirahat.Tapi, biarlah jika kau ingin aku menunggu sebentar lagi. Doakan aku kuat. 

Aku pastikan, kamu saat ini adalah cerita yang akan aku dongengkan suatu saat nanti. Semoga menjadi pembelajaran. :) 

Terimakasih sudah mendengar ocehanku. Aku legaa, semoga kamu mendengarku. Lekas baik-baik saja Bumi dan seisinya. Udahlah, semangat gapapa ko ga baik-baik aja. Tapi abis itu bangkit lagi yaa. Jangan lupa, menebar energi positif ke orang lainnya. Miss you All, Wasalam. 

#Tia
#CelotehTia

Komentar

Postingan Populer