To My First Love
Selamat sore, siang, malam kalian semua. Di tempatku berada, matahari sedang indah-indahnya akan pulang. Waktu yang sempat dulu aku ibaratkan sebagai akhir daris ebuah penantian, yaitu bahagia. Tapi sekarang sepertinya aku sadar, pagi ataupun senja semuanya sama. Tak ada yang lebih bermakna jika kita tak berusaha dan bersama siapa kita berusaha tentunya.
Sudah lama aku tak menyapa. Kalian apa kabar? Baik kah? Semoga selalu baik. Maafkan aku ya, jarang muncul. Sekalinya muncul, aku malah ingin membawa kalian ke tempat yang sangat dekat tapi jarang kita sadari. Hati, hatiku, hati kita. Rasa syukur atas orang terdekat kita yang jarang kita ucap🙂, minta waktu untuk membacanya yaa. Semoga bermanfaat. Ini surat, untuk ayahku.
To My First Love...
Untukmu seseorang yang ku panggil 'Bapak', sayap segala sayap, yang selalu mendoakanku dalam senyap. Seseorang yang mencintaiku tanpa alasan. Yang tepat ketika aku lahir, harapan satu-satunya adalah sosok aku semoga diberi kehidupan. Seseorang yang selalu memperjuangkan senyumku. Ketika diri ini kesulitan bernafas karena masalah paru-paru, ia rela mendatangi tempat terjauh sekalipun agar aku bisa menghirup udara tanpa alat bantu.
Dia yang kini masih saja memperjuangkan kehidupanku. Aku tak cukup romantis, tapi aku tau kala kau mencari cara agar aku terbuka. Bercerita apa saja, kisah di sekolah, tentang pelajaran agama yang ku dapat, dan tentang cinta. Ia selalu ingin memastikan bahwa cintaku yang besar masih tetap milikNya dan miliknya. Bahkan ketika aku berkata " Pak, seseorang yang menjelma bapak menyakitiku tadi malam, ". Aku tahu ia juga terluka. Bagaimana tidak, senyum anak yang setiap saat diperjuangkannya tengah dipangkas oleh seseorang yang sempat dikatakan mirip dengan ayahnya. Ia hanya tersenyum dan berkata " Tak apa, makanya kalo mencintai itu sekedarnya saja". "Akan ada yang mirip ayah yang lain ko nanti". Aku hanya tersenyum sambil membayangkan, Tuhan kenapa aku malah jatuh oleh cinta yang tak lebih besar dari cinta Ayahku. Kenapa cinta itu mengalihkanku dari ayahku. Cintanya, kenapa aku tak pernah melirik kepadanya? .
Bapak, aku tahu hidup selalu memberi pembelajaran untuk kita. Aku mengambil hikmah dari setiap kejadian yang berlalu. Bersabar dari badai apapun yang tengah terjadi. Kau yang mengajarkan itu, tapi terkadang aku lupa bersyukur. Bahwa masih ada bapak yang selalu menguatkanku. Maaf terkadang aku teralihkan oleh dunia yang amat bersinar ini pak.
Kau, hebat menurutku. Iya, aku yakin semua orang mengatakan itu untuk ayahnya. Tapi kamu berbeda pak. Kamu hebat, sungguh. Harus dengan diksi apa aku menggambarkannya, tapi sungguh aku benar-benar bersyukur aku diberi kehidupan dan yang ku panggil "bapak" Adalah engkau. Maaf Pak kalo aku terlalu sibuk menata hati yang retak karena rumah, sampai aku lupa untuk mencari cara bagaimana memperbaiki rumah. Aku sadar, kaulah yang paling terluka sebenarnya. Tidak, kau yang paling hebat pak.
Terimakasih untuk selalu mendukung apapun yang ingin kulakukan, Tidak pernah membantah apa yang kuputuskan, tapi tidak luput dari meluruskan kesalahan yang kuperbuat. Bahkan di saat seluruh dunia tak mempercayai aku, kau selalu menguatkanku pak. Iya, selalu terngiang dalam kepalaku " Bapak gabisa kasih kamu warisan harta, bapak cuma bisa selalu dukung kamu, cuma bisa beri jalan. Bapak akan usahakan" Tabarakallah pak, semoga aku bisa menghadiahkan bapak tiket ke Makkah yaa. Sehat terus, kita harus berjuang dan sabar bareng. Do'akan aku juga bisa berhasil menularkan semangat kepada adik-adik ya pak. Karena bagi aku, salah satu faktor aku dikatakan berhasil adalah ketika adik-adik bisa lebih baik dariku, dalam hal pendidikan atau apapun itu. Meski tak jarang aku dan Adik-adik berdebat hanya karena kita beda pandangan. Semuanya berniat baik, aku dengan niat ingin memperbaiki, tapi adik justru sering menentangku karena niat baiknya tidak ingin merepotkan.
Doakan aku selalu kuat. Pada segala hal, terkadang fikiranku sendiri sering menghancurkanku pak, aku benci dikhawatirkan tapi aku selalu mengkhawatirkan segala hal. Tapi gapapa, semuanya akan baik-baik saja jika aku bersama bapak. Kita harus tetap bahagia, sesederhana panen kopi dan buang benang bersama. Asal bapak tau ini mungkin tidak pernah tia katakan langsung. Tapi Tia sayaaang banget Bapak.
Tia tidak romantis, padahal tau bapak pernah balik lagi dari tempat kerja krn keinget Tia akan berangkat prakerin, selalu bela-belain nyari sinyal buat nanya kabar, selalu berusaha kuat siang malam demi bayarin sekolah. Maaf, karena Tia tidak bisa membalasnya dengan kata-kata romantis pak. Semoga selalu panjang umur yah pak. 🙂 kita harus kuat." Doakan aku pak, semoga suatu saat bertemu seseorang yang bisa menerima kita seadanya kita, dn sabar akan apapun kenyataannya ".
Hehe, kusudahi saja yaa, kapan-kapan aku sambung lagi. Suka nangis sendiri soalnya kalo bahas keluarga. siapa saja yang mengenal ayahku, tolong ya katakan padanya anak perempuan satu-satunya ini sangat mencintai ayahnya. Engga ada yang bisa gantiin dia. Tolong, makasih ya udah luangin waktunya. Gatau, lagi mellow aja nih sama ayah. Sudah hampir 4 bulan di rumah, hampir jarang sekali seharian main atau ngobrol. Pasti bangun tidur udah pergi kerja aja. Ayah kalian gimana? Pasti dia hebat juga, salam yah untuk ayah kalian, dan untuk ayahmu salam juga yah, aku ingin mengatakan banyak terimakasih. Hehe udah yahh, selamat senja.
Tia,
#surat #suratuntukayah

Komentar
Posting Komentar