Merekam Potret Kehidupan Desa Berselimut Kabut, Cisadon.

Penampakan Desa Cisadon Dari Jauh (Foto by : Gina)

Sebab mengerjakan tugas hanyalah alasan untuk jalan-jalan, maka saat sahabatku Gina menawari untuk menemaninya ke salah satu Desa di atas bukit untuk sebuah tugas foto, maka aku langsung IYA.

Kala itu, di sela-sela obrolan tengah malam dua orang mudi yang hampir habis mentalnya karena berbagai hal, salah satunya berkata “kalau tugas photo story aku ngangkat tentang Cisadon, bagus kali ya,” aku diam dan spontan menjawab “kayanya si nilainya bagus, karena si bapak juga pasti liat effort kamu buat ke sana juga,”. “nanti kita ajak Hasanah, kaka nina, Djohan kalau bisa, aku ajak teman relawan aku juga nanti,” katanya.

Setelah beberapa bulan, setelah melalui berbagai rangkaian peristiwa kehidupan dan aku masih berkutat dengan tugas magang yang selalu men-challenge setiap hari kerja. Satu pesan masuk. dia, Gina, sahabatku mengabari kalau jadi untuk mengambil gambar di Cisadon. “fix ya nanti kita ke sana, minggu kedua di bulan Desember, nanti kita motoran aja ke sananya,”.

Singkat cerita, manusia hanya bisa berencana dan Sang Maha lah yang menentukan jalan terbaiknya. Semula yang direncanakan akan berangkat beberapa orang hanya jalan 3 orang saja bersama Hasanah. Semula yang rencana berangkat akan menggunakan sepeda motor pun jadi tidak terlaksana. Jadinya, naik KRL dan Go Car, tapi naik apapun itu, aku selalu menikmatinya si, aku Happy. Karena via apapun selalu ada cerita dan pengalaman yang didapat dari sebuah perjalanan. Seperti hari itu, di saat kita lancar jaya naik KRL dan malah seolah disesatkan oleh perjalanan saat naik Go Car. Mulai dari Go Car yang kita pesan bukan mobil biasa melainkan taksi, Bukan disesatkan si lebih ke kita menghabiskan waktu lama karena jalan utama yang harus kita lewati sedang ada truk mogok sehingga harus putar balik dan mencari alternatif jalan lain. Setelah dapat jalan lain eh kita salah belok dan malah masuk ke perkampungan yang jalannya sempit banget, seharusnya belok kanan kita malah ambil kiri. Entahlah, estimasi waktu kita molor beberapa saat.  Sebenarnya kita-kita tenang aja si, tapi mengingat raut wajah pak sopir yang mulai kesal dan mengingat lagi ceritanya beberapa menit lalu yang memberitahukan bahwa beliau belum sarapan sedari pagi, aku engga enak hati jadinya. Di akhir, kita sampai di tujuan dengan memberikan tip ke si bapak, melihat senyum syukurnya sedikit mengobati rasa engga enak tadi.

Kesimpulan perjalanannya seperti ini. Dari kosan kita naik angkot ke Stasiun Pondok ranji-transit di Stasiun Tanah Abang-naik lagi ke arah Nambo, baru deh naik Go Car ke tujuan Padepokan Garuda Yaksa. Sebenarnya titik awal hiking-nya itu di Kandang Sapi Prabowo, tapi belum ada di maps wkwk. Makanya kita harus jalan dulu dari padepokan sekitar 1 km. tapi kalau kamu bawa kendaraan pribadi terus aja nanti di parkir sebelum Kandang Sapi.


Kandang Sapi Prabowo (Foto By : Gina)

Oiya karena aku, Gina, dan Hasanah ke Cisadon saat weekend, jadi kita harus membayar biaya retribusi sebesar 5 ribu (Kalo ga lupa hehe), daaan kalau kamu Tracking di sabtu, minggu jangan khawatir karena akan sangat ramai sama orang-orang yang olahraga, trail, off-road, serta kalau kelaperan di jalan, kamu juga akan bertemu warung-warung. Jadi bisa dibilang Cisadon ini masuk wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, Dan tertinggal) tapi masyarakat sudah menyadari adanya potensi dari daerahnya.

Sini biar kujelaskan, tapi sebelum itu aku juga mau bilang makasih sama mas Agung dan adek-adek gemesnya yang udah nawarin naik jeep kala itu wkwk. Perjalanan yang estimasinya 4 jam berhasil dilampaui 3 jam aja haha. Di sini bener-bener the power of Do’a Hasanah banget, dari awal beberapa meter jalan dia selalu bilang “Kita numpang jeep lewat aja yuk,”. Tapi karena kita anaknya emang suka challenge, selagi masih mampu jalan ya gas terus. Eh Tuhan baik banget pas aku istirahat di pinggir jalan sama Gina sambil nunggu Hasanah yang lagi ambil foto di belakang, tiba-tiba ada jeep berhenti dan nawarin naik. Awalnya ragu si, takut yakan tapi karena teman-teman yang lain juga setuju buat naik, akhirnya naik dehhhh. Ahhh makasi banyak pokoknya sudah membuat perjalanan kala itu berwarna.


Gerbang Selamat Datang (Foto by : Gina)

Oke, masuk ke inti (lah dari tadi apa ya), Desa Cisadon, Karang Tengah, Babakan Madang, Kabupaten Bogor merupakan suatu desa yang berada di atas bukit dengan ketinggian sekitar 1.100 Mdpl. Tidak ada angkutan umum untuk sampai ke sana. Kita hanya bisa melalui jalan dengan Tracking, Off Road, Trail, atau ikut kendaraan warga yang sedang turun jika beruntung. Akses ke sana cukup baik walaupun tidak bisa dikatakan layak. Karena memang itu daya tariknya, jalan bebatuan, sesekali menanjak dengan pemandangan pohon dan tebing di sisi jalannya. Perjalanan ke sana bisa ditempuh dalam waktu 2-3 jam dengan berjalan santai tanpa istirahat, atau 4 jam lebih dengan istirahat.

Ketika kita sampai di Desa Cisadon, kita akan disambut oleh gerbang bertuliskan Selamat Datang serta rumah-rumah warga yang masih sederhana. Tak ada bangunan yang menggunakan semen, infrastruktur di sana benar-benar masih apa adanya. Rumah yang cukup untuk melindungi keluarga dari panas, hujan, dan dingin, tak ada listrik, sumber pencahayaan di rumah berasal dari turbin yang dipasang per rumah warga. Jangan berharap ada tv, kompor gas, kulkas, atau apa yaa wkwk.


Turbin Salah satu Warga (Foto By : Gina)

Di sini hanya terdapat satu musholla kecil yang selalu ramai dengan anak-anak selepas sholat serta satu bangunan sekolah yang menurut kabar warga setempat, sudah lama tidak terpakai karena tidak ada pengajarnya. Jadi katanya dulu sekolah ini didirikan oleh sebuah komunitas relawan yang akan bergilir setiap bulannya untuk mengajar. Tapi semakin ke sini, karena satu dan lain hal akhirnya sekolah ini hanya berdiri. Anak-anak di sana mulai kembali ikut aktivitas orangtuanya ke ladang di siang hari. Dalam artian tidak bersekolah secara formal, tapi mereka belajar tentang kehidupan menurutku yaa.

Rumah Pintar (Foto By : Gina)

Desa yang hanya memiliki kurang lebih 25 KK ini mayoritas mata pencahariannya adalah berkebun, dan Kopi menjadi produk unggulan yang dihasilkannya. Diberinama kopi Raja Wine, salah satu warga yang merupakan ketua RT di sana memproduksinya sendiri dan dijual kepada pengunjung. Selain kopi, pisang juga menjadi komoditas yang ada di sana. Selain hasil alam, penunjang ekonomi masyarakat sana juga berasal dari hasil dagangan yang dijajakannya kepada pengunjung. Untuk harga juga masih terbilang normal menurut aku, bahkan aku mikir ko bisa si ibu jual mie di atas gunung kaya gini Cuma lima ribu, padahal buat belanjanya aja butuh effort lebih. Tapi yaa semoga sehat-sehat selalu deh.

 

Kopi Raja Wine Cisadon (Foto oleh Gina juga)

Di sana juga terdapat danau yang bisa dijadikan spot foto pengunjung, des aini dikelilingi oleh lanskap pegunungan yang indah, suara alam yang masih asri dan keramahan warga yang tulus. Untuk pengunjung yang ingin menginap, tidak perlu juga khawatir karena warga di sana cukup terbuka untuk mempersilahkan tamu menginap di rumahnya. Oiya lupa bilang, rumah-rumah di sana itu semacam punya ciri khas deh. Jadi ternyata ada kaya ruang bawah tanahnya gitu dari rumah utama yang terlihat. Dan mereka biasa menempati yang bawah itu karena dinilai lebih hangat dibanding di atas. 

Salah satu rumah warga

Mungkin itu ajasi sedikit deskripsinya, banyak hal yang bisa kalian lakukan di desa kecil yang berharga ini. Mau sedikit berbagi tentang pembelajaran yang aku ambil dari perjalanan saat itu adalah Pertama, Jika tidak terjadi penguluran waktu karena beberapa kendala, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi. Lalu kita hanya harus menikmati setiap garis prosesnya, Karena Dia lah sebaik-baiknya pemberi jalan dengan waktu yang tepat. Kedua, jadilah orang baik agar selalu dipertemukan dengan orang-orang yang baik pula. Tidak hanya tentang sesama manusia, tapi alam dan juga rasa. Fyi, saat itu ketika pulang kita hampir menyerah karena hari mulai malam dan kendaraan untuk pulang belum kita temukan. Gojek gaada yang mau, dan disaat hampir putus asa, kita dipertemukan dengan bapak baik hati yang menawarkan tumpangan tanpa berharap imbalan. Pertolongan Allah itu nyata ada, jangan menyerah untuk berharap kepada-Nya. Dan terakhir, aku banyak belajar dari setiap orang yang kutemui, tentang cinta, ketulusan dan penerimaan. Cinta tetap cinta tak peduli perbedaan sikap, usia, maupun kondisi hidup. Ia akan tetap tumbuh di tempat yang semestinya. Ibu, Bapak yang bersedia rumahnya diinapi saat itu, terimakasih sudah membuatku kembali percaya bahwa cinta yang saling melengkapi masih ada. Dan ya, Cisadon terimakasih untuk semua kebaikannya. Gina, Hasanah, kalian hebat, kapan-kapan kita mendaki bareng yaa. 

Oiya guys buat yang mau liat hasil foto Gina, bisa juga dilihat di akun instagramnya yaa wkwk. 

aku taro di sini:

https://www.instagram.com/ginaginul26/

https://www.instagram.com/sthsaaana/

link Foto

Ayo dong semangatin biar bisa upload setiap minggu :-) btw, tadinya aku mau up tentang pendakian gunung Merbabu dulu, tapi yaudahlah. selamat membaca teman-teman Tiaaa








Komentar

  1. Ajak aku ke tempat di mana aku bisa melihat cinta sejati tiaa��

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer