Mendamba Sederhana
Selamat
datang kembali di rumahku yang sedikit berantakan ini. Sudah lama sekali, hai
kalian apa kabar? Aku selalu mengadu banyak semoga untuk semua orang di sana
dalam keadaan bahagia, tanpa tapi tanpa ada yang ditutupi.
Seringkali,
banyak di antara kita bersembunyi di balik manisnya sebuah senyuman, Kita
seringkali memberi jeda di antara riuhnya tawa untuk sejenak mengambil nafas
dan memberi kekuatan terhadap diri sendiri “marii, mari selesaikan tawa ini”
lalu lupa memberi peluk setelah kembali.
Aku ingin
tahu, seberapa dalam mereka merasakan, seberapa berusaha mereka menyembunyikan,
seberapa kuat mereka bertahan. Aku ingin tahu, bagaimana mereka menjalaninya,
bagaimana mereka menerimanya, dan bagaimana merea membalutnya. Aku ingin turut
dalam perjalanannya. Barangkali tak banyak yang bisa aku lakukan, tapi
setidaknya mereka tidak sendiri.
Begitulah, seringkali
mencoba menjadi tempat istirahat yang nyaman tanpa pernah berfikir aku yang
lelah ini juga butuh pulang. Ku kira dengan menyediakan banyak ruang aku akan
memiliki banyak teman, teman yang mau kubagi kisah. tapi aku lupa tidak semua
pencerita adalah pendengar, tidak semua yang singgah akan mempercayakan kunci
kamarnya. Kukira dengan menjadi rumah bangunanku akan megah. Tapi lagi-lagi aku
lupa, bahkan megah bisa menjelma angkuh dalam waktu bersamaan.
Aku yang
suka berjalan sendiri ini nyatanya sering kelelahan, aku yang apa-apa bisa
sendiri ini nyatanya membutuhkan teman, aku si kuat ini nyatanya sering
kesepian. Setiap saat adalah proses mencari setitik kehangatan, sebuah alasan
untuk bisa bertahan. Setiap detik adalah helaan nafas menguatkan dan setiap
sujud adalah jeda meminta yang terbaik dari setiap proses kehidupan.
‘mungkin
ini jalan yang terbaik’ setiap saat setelah tersungkur, berhasil, terjerembab,
sedetik bahagia, lalu kembali ke titik terendah. Aku yang terlihat angkuh ini
mudah sekali tersenyum getir, ingin mengeluarkannya dalam bentuk tangis maupun
teriakan tapi hanya bisa tertahan di dada. Kita sering dipaksa kuat dalam
menerima.
Tapi di
samping itu semua, Sederhana, aku ingin yang sederhana. Berjalan, mencintai,
memberi, menerima, tersenyum, kembali, memeluk, saling bercerita. Hidup ini
sudah sangat menantang bagiku, aku ingin pulang dengan perasaan cukup.
Mencintai
sebagaimana mereka yang kutemui dengan cerita indahnya, memberi seperti tak ada
tuntutan lainnya, menerima setiap hati tulus untukku ubah senyum bahagia,
berjalan dengan percaya diri meski lelah tapi aku akan pulang, berpelukan dan
saling berbagi cerita. Dengan ia yang punya banyak mimpi dan dukungan, dengan
ia yang memiliki hati seluas lautan, dengan ia seorang teman yang bersedia
bercanda denganku seumur hidupnya.
Sebelum itu
aku akan dengan bangga berterimakasih untuk segala rasa senang ketika kita
sebelumnya pernah berjumpa. Aku tak pernah sebahagia itu, dan juga aku tak
pernah sesakit itu. Terimakasih karena bertemu denganmu membuatku terbiasa
menghadapi banyak hal. Hal-hal menjengkelkan menjadi lebih mudah kutangani, ia
yang selalu ada akan juga pergi, aku akan mempersiapkan diri.
Ada banyak
hal indah di lamunan, meski di kenyataan masih tertampar banyak kejadian aku
tak apa dan akan tetap menikmati prosesnya. Aku selalu berdoa, semoga ada
banyak aku aku yang lain, bahwa rasa sakit, kecewa, putus asa juga adalah
bagian dari kehidupan yang harus kita terima. Begitulah pesan alam bawah
sadarku untuk diriku yang masih banyak kurangnya ini. Terakhir, ia menyampaikan
banyak terimakasih karena sudah mau bertahan hingga detik ini. Percaya segala
sesuatu akan datang di waktu yang tepat.

Kamu sangat istimewa
BalasHapus