Sepatu untuk Bapak
Setelah
seminggu berlalu, rasanya masih kemarin moment yang ditunggu itu sudah menjadi ‘waktu
itu’. Sesuatu yang aku dan keluarga harapkan (mungkin?). masih jelas diingatan
bagaimana aku bisa sampai di titik ini. Badainya banyak, banyak sekali. Dimulai
dari tidak ada ridho dari salah satu sayapku, cinta yang salah, perpisahan,
patah yang bertubi-tubi, sampai akhirnya aku terus bisa meyakinkan diri sendiri
untuk selalu melangkah dan badai itu kalah dengan sendirinya.
Seminggu
sebelum seminggu yang lalu, aku belum bisa mendefinisikan bagaimana hari itu,
hari yang aku tunggu dan perjuangkan sekaligus menjadi hari yang tidak ingin
aku hadapi. Wisuda, bukan karena aku harus memakai kebaya dan sepatu sedikit
tinggi, bukan pula karena harus bangun lebih pagi dan make up, tapi ini
tentang sesuatu yang mungkin akan berakhir.
Aku Tia,
anak pertama dari tiga bersaudara. Peran anak pertama terkadang membuat aku
melihat diri sendiri ini hebat, tapi juga keras. Banyak hal yang tidak bisa
diceritakan tapi aku cukup berada di tahap bahwa menjaga kewarasan diri sendiri
harusnya lebih penting dan berlaku bodo amat pada hal-hal yang memang di luar
kendali kita itu gapapa banget.
Lahir di
sebuah desa yang kuantitas pendidikan tinggi masih sedikit, aku mencoba keluar
dari sana. Sebagai perempuan, tentu banyak anggapan dan kalimat-kalimat yang
mungkin bagi mereka itu hal biasa, tapi sekali lagi aku sudah berada di tahap
aku bisa menganggap hal itu becandaan. Aku tidak perlu banyak menjawab, cukup
tetap tegakkan bahu dan it’s oke.
Menjadi
anak pertama, aku merasakan banyak tanggung jawab yang mungkin sebenarnya bukan
untuk aku tapi otak dan hati selalu ingin andil. Merasa gagal menjadi seorang
kakak, merasa penuh ambisi, keras kepala, khawatir banyak hal, daan banyak
lagi. Beruntung masih dibersamai kedua orang tua yang selalu mendukung hingga
saat ini.
Tulisan ini especially untuk bapak,
tanpa mengurangi cinta yang penuh untuk mimih tentunya. Bapak si garda
terdepan, aku tau banyak hal yang ingin dia capai tapi dikorbankannya untuk
keluarga, aku tau banyak kata capek yang pada akhirnya disimpan rapat-rapat
sendirian. Dan aku tau ada banyak doa yang selalu dipanjatkannya dalam setiap
kegiatan. Aku ini belum hebat, aku masih sering kalah, aku belum jadi apa-apa
jadi maaf jika masih merepotkan.
Suatu
ketika aku bertanya,” capek gak si pak,?” dia hanya jawab “capean juga kamu,
mikirin banyak hal. Bapak capek bisa istirahat, kamu kapan istirahatnya?,” niat
hati menguatkan bapak berujung pada menahan tangisan dalam diam sendiri. Kadang
aku berfikir, bagaimana aku menjadi tua nanti? Akankan sekuat bapak dan mimih?
Apa aku akan selalu menemukan alasan untuk hidup, apa aku akan bisa bertahan? Tanpa
banyak bercerita apa aku bisa tetap waras? Serius nanya tapi boleh gasi berfikir
gitu? ahaha.
Oke kembali
ke moment wisuda, aku merasa ini adalah sesuatu yang deep banget karena di
dalamnya banyak perjuangan orang tua. Aku hanya anak yang menjalankan tugasnya.
Aku ingat betul bagaimana bapak menjadi orang yang paling mendukung waktu aku
bilang ingin lanjut kuliah. Ya walaupun dia juga pasti khawatir, tapi satu
optimisme bapak yang aku suka adalah rezeki anak itu akan selalu ada katanya.
Ini final
study tia kah pak? walaupun bapak ngizinin untuk tia lanjut lagi, tia gamau
egois. Ada banyak hal yang aku coba resapi. Masih ada adik-adik, kita fokus ke
sana dulu.
Sebetulnya aku
merasa gagal di wisuda kemarin, banyak mimpi yang ingin aku capai sebelum hari
itu. Membelikan bapak sepatu, bekerja di tempat yang tia impikan, bapak dan
keluarga ke sini dengan uang tia, tidur di hotel, ke Ancol dan Hutan Kota
bareng, aku pingin travelling ke daerah Jawa Timur, beli laptop buat Acul,
daaan banyak lagi. Naas, sebulan sebelum satu minggu yang lalu aku keterima
kerja tapi aku ngerasa gak baik-baik aja setiap harinya. Aku kalah, aku
mengundurkan diri dan aku merepotkan lagi. Maaf, mimpi yang banyak itu hanya
terbayar dengan kata “maaf, maaf karena hanya bisa beli baju,” tapi yang lebih
menyakitkan lagi ketika bapak bilang “maaf, kalau bapak engga seperti
yang tia harapkan,”. Demi tuhan aku ingin menangis, aku tidak pernah berharap
bapak untuk gimana-gimana, bapak adalah versi terbaik bagi aku.
Di bawah
payung yang sama di tengah hujan yang tidak begitu lebat aku berterimakasih
kepada bapak karena sudah menemani aku wisuda sejak SD, bedanya wisuda kali ini
bapak sendiri. Karena memang undangannya untuk satu wali, mimih menunggu di
luar. Di tengah banyak luka rasa kegagalan terselip kata yang begitu hangat, “bapak
malah bangga setiap nganter anak-anak untuk kelulusan,”
Dan ya here
I’am. Aku masih anak kecil Bapak dan Mimih, masih banyak yang akan aku kejar. Aku
selalu berdoa semoga mimpi mimpi ini akan menemukan jalannya, dan aku akan
tetap berusaha. Berulangkali disentil oleh rasa ingin menyerah, tapi jiwa tetap
kembali kepada pemiliknya yaitu diri sendiri. Ketika aku ditakdirkan untuk
menjadi pemimpi, maka aku akan membuat takdirku begitu menyenangkan. Beberapa kegagalan
memang harus datang, untuk sekedar menyapa dan diambil pembelajaran. Selalu ada
waktu yang tepat, entah untuk membayar kekecewaan atau menemui pencapaian yang
tak terduga. Yang pasti, segala hal akan berujung kepada kebahagiaan.
Selamat menikmati
proses teman-teman, selamat diwisuda. Dari aku yang sedari kecil sering disebut
anak bapak. Semoga satu pencapaian ini bisa menjadi sepatu untuk membersamai
langkah-langkah kalian ke depan, dan menjadi sepatu untuk melindungi langkah
cinta pertama anak perempuan, yaitu Bapak.
Ini bapak aku kalo baca ini pasti ketawa kali yaa wkwk.
Pak, Ijazah ini tia persembahkan untuk Bapak dan Mimih!


Good job and fighting 🫶🏻
BalasHapusTerimakasiii
HapusMasyaAllah ❤️
BalasHapusMasya Allah ♥️
BalasHapus❤
HapusNangis bgt bacanyaa teh tiaa 😭 semangat dan sukses selaluu 🖤
BalasHapus🥲 maapkenn, amiiin maacii.
HapusHuru-hara banget baca yg begini begini mellowna
BalasHapus🥲
HapusAnak hebat. Aku mengagumimu
BalasHapus