Niskala
![]() |
| Lanskap fajar di salah satu daerah terdingin |
Seringkali, rasanya tidak adil. Aku mengantar kepergianmu ke terminal kota tapi aku berangkat sendirian menuju kotamu dan kamu tidak ada di sana. Aku memberimu bekal permen gula sedang Aku berharap kejutan ini berhasil. Akan ada cerita manis, tapi naasnya aku menciptakan sendiri lukaku. Aku ingin berhenti, sungguh. Aku ingin menepi dan menghilang. Tapi dunia sudah terlalu kejam bagaimana bisa aku juga kehilangan teman? Meski kadang tidak membantu, tapi setidaknya dalam khayalku, validasiku tentang aku tidak sendirian itu benar adanya.
Tidak mudah berteriak aku sedang tidak baik-baik saja tanpa diberi tanya. Tidak mudah untuk memberi rasa setelah semua yang terjadi. Aku terkadang lelah berdiri sendiri dan menjadi penguat. Akan menyenangkan sekali rasanya jika ada yang mengertimu tanpa kamu harus repot-repot menjelaskan.
Tapi pada akhirnya aku sampai lagi pada kesimpulan bahwa mungkin perempuan seperti aku tidak layak diperjuangkan apalagi dicintai, atau bahkan memikirkannnya saja mungkin aku tidak diperkenankan.
Setidaknya itulah yang dulu terbesit setiap kali dipatahkan, sampai di hari ini dengan kisah-kisah yang tidak jauh beda rasanya dendamku semakin tinggi. Aku ingin mengakhirinya, semua hal yang mengganggu fikiranku, fokusku, dan jalanku. Memang sudah seharusnya kesepian dihadapi sendirian, seperti yang biasa dilakukan.
Dengan yakin segala yang terjadi adalah yang terbaik, dan yang terbaik akan selalu datang di waktu yang tepat nan tidak terduga.
Aku selalu takut dengan mereka yang terlalu baik. Rela melakukan apa saja disaat diri sendiri bahkan merasa tidak layak. Teruntuk mereka aku khawatir, aku tak bisa membalas banyak, aku tak bisa berbalas mencintai kembali. Di antaranya terang-terangan berkata bahwa cinta hanya milik mereka, ia tak memaksa untuk dilihat apalagi dibalas. Mereka tersenyum, tapi aku tahu bentuk cinta yang seperti itulah yang sebenarnya besar. Atau barangkali terang-terangan mengakui hanya agar beban di hatinya sedikit berkurang? Begitukah cinta dipandang sebagai beban oleh sebagian orang?
Jika aku tumbuhan, aku hanya ingin memberi udara yang sejuk. Jika aku buku, aku hanya ingin menyuguhkan sampul yang sempurna, jika aku sebuah cerita sungguh aku hanya ingin pembacaku mengingat hal-hal bahagia.
Sempurna yang kuusahakan. Yang aku butuhkan hanya seseorang yang bisa memeluk ketidaksempurnaan yang ku punya, Mimpi yang banyak gagalnya, serta aku yang banyak kurangnya.
Terkadang, dalam hidupku semua terasa rumit. Suatu waktu aku berfikir aku terlalu keras pada diri sendiri, selalu memaksakan apa yang dimau, dan tak jarang tidak mendengarkan suara sekitar. Oke, suatu waktu pula mungkin itu adalah hal yang baik. Tapi rasanya terkadang aku ingin pula dilihat sebagai bentuk ketidaksempurnaan, hanya sebagai anak pertama yang bisa lelah berusaha.
Aku penuh cinta, tapi tidak ada yang memenuhi hatiku. Semua yang terjadi menjadikanku sekeras ini. Aku tidak pernah membenci apapun, bagaimana tanpa hal tersebut aku tidak akan seperti ini. Terimakasih untuk ujianku, terimakasih untuk yang masih mencintaiku, terimakasih yang sudah meninggalkanku, terimakasih untuk semuanya. Aku menjalani hidup ini dengan baik. Dengan sangat baik.
Kini yang tersisa hanya perasaan apa yang kamu lakukan, aku bisa dengan lebih baik melakukannya. Kau bilang aku pendendam? terserah. yang jelas aku tidak akan memperjuangkan lagi hal-hal yang tidak layak.
nis.ka.la - a tidak berwujud; mujarad; abstrak

Komentar
Posting Komentar