Sedikit Cerita.
Bulan-bulan
dalam bayang-bayang kegagalan. Bohong kalau aku biasa saja, aku hanya mencoba
untuk tenang di tengah permainan tangan Tuhan. Setiap pagi di kala jendela
mulai menampakan cahaya langit yang cerah, aku terbangun dengan rumit. Aku tersadar
dari mimpi panjang yang tak jarang lebih indah dari kenyataan.
Aku
disadarkan bahwa hidupku belum sebaik itu. Mimpi panjang menyenangkan yang
kulalui adalah sebagian harapan yang ingin dengan cepat terjadi. Tapi itu tidak
mungkin, bahkan mungkin usahaku belum sebanding dengan itu. Setiap malam di pagi-pagi
yang sama, dengan lelah hati ini berkata, ‘Tuhan jika memang sesulit itu,
tolong diluaskan lagi sabarnya,’ dan mungkin itu yang Tuhan kasih.
Tak jarang,
aku kehilangan arah. Baru-baru ini aku mendeklarasikan diri kepada Ibu bahwa
rasanya diri ini mulai kehilangan tujuannya. Aku menangis, tak bisa bercerita,
tak tau ingin mengeluh apa. Tapi rasanya, aku ingin segera tenang. Berkali-kali
merubah cara tanpa mengubah tujuan, berkali-kali juga terjatuh. Oke, mungkin masa
bahagia di sini sudah usai.
Aku sampai
di fase aku ingin menghilang. Hanya ingin menghilang, itu saja. Lantas aku
bermimpi bisa kembali setelah semuanya baik-baik saja. Lagi-lagi suatu yang
tidak mungkin, karena belum aku persiapkan bekalnya. Aku tidak bisa menghilang
begitu saja, karena Ia pasti menemukanku.
Bagaimana rasanya
tersadar bahwa diri ini tak jauh lebih baik dari diri di 2 tahun yang lalu? Atau
bahkan lebih buruk? Suatu ketika di saat aku melihat arsip story media sosial,
2 tahun yang lalu di saat ujian terberat adalah melihat ia bersama yang lain,
Aku merasa tumbuh dengan baik-baik saja bersama luka. Luka itu mengantarkan aku
pada mimpiku satu per satu. Lantas mengapa hari ini? Apa aku terlalu berlebihan
menyebutnya ketika aku sedikit kehilangan antusiasme untuk hal-hal yang dulu
sangat senang aku lakukan?
Hidup ini seperti
terlalu cepat berputar dan berpindah tangan. Yang selalu ada, pergi. Yang
mengaku kawan, tiba-tiba menghilang. semakin ke sini semakin diperkuat bahwa
semua orang pada akhirnya hanya akan membutuhkan satu teman untuk pulang. Dan kamu yang belu memiliki itu, hanya punya
diri sendiri yang bisa diandalkan.
Terlalu
mengandalkan diri sendiri juga kenapa menjadi boomerang akhir-akhir ini ya? Dulu
ku pikir aku suka tantangan, aku bisa menaklukan semuanya. Memang bisa, tapi
jika resikonya waktu yang lama dan realistis pada hidup, aku bisa lelah juga.
kesampingkan tentang perasaan-perasaan cinta, sungguh aku lupa rasanya memenangkan
dan dimenangkan. Aku hanya ingin bahagia supaya bisa berbagi kebahagiaan, itu
saja.
Dan aku
berharap semesta tidak menghukum mereka-mereka dengan perasan hilangnya
kepercayaan diri atas kemampuan-kemampuan yang dimiliki. Jika itu terjadi, aku
berdoa mereka akan selalu menemukan cara untuk kembali meyakinkan diri jika itu
tidak benar. Kita tidak sendiri dan setiap kita memiliki waktu masing-masing. Jadi
jangan berhenti.
Selebihnya aku
berfikir bagaimana cara mengembalikan mereka yang hilang karena keegoisanku,
bagaimana cara menemukan kembali semangat yang bersembunyi itu, dan bagaimana
aku bisa memulai hal baru dengan tetap menyenangkan seperti biasa. Aku yakin
aku bisa, seseorang bilang padaku bahwa kesuksesan itu adalah ketika kesempatan
bertemu dengan kemampuan. Meski kesempatan bukan suatu hal yang bisa kita
kontrol, tapi kemampuan bisa terus kita asah. Melalui keajaiban apapun, aku harap
jika waktu kesempatan itu tiba, aku sudah dalam posisi lebih siap.
Mungkin jawaban-jawaban
dari segala keresahan hari ini masih belum ada, tapi aku harap nanti jika aku
menemukannya aku masih senang bercerita di sini. Dan di saat hari itu tiba,
semoga kita sudah menjadi lebih siap dan lebih bahagia ya 😉
Ah bicara
apa si aku haha, Entahlah, sedang belajar bisa menulis dalam kondisi apapun. Karena
yang aku tau, sulit sekali menulis dalam keadaan hati yang sedikit tidak
baik-baik saja itu.

Komentar
Posting Komentar