30 HRDC Day 11 : Ruang Asa

Aku seperti tak terlihat. Berbicara namun seperti tak ada suara, di antara yang berlalu lalang lewat kesana kemari, aku yang diam namun riuh suara dalam dada. Aku yang diam namun dengan sejuta pertanyaan dan amukan ke dalam diri tak ada berkesudahan. 

Beberapa kawan menyapa. Aku kenal, rasanya hebat jika bisa bergaul dengan banyak orang, tertawa tanpa beban, menyapa sebanyaknya orang yang kita tau. Aku lelah, aku sendiri di antara tegaknya pohon-pohon. Aku tertawa diantara rindangnya permasalahan. Aku bersuara tanpa kalian ada. Hidupku, masalah. ~

Tulisan ini, seharusnya ceritaku malam ini padanya. Tapi baiklah, aku juga ingin mengurangi berbicara. Jadi kutuliskan saja di sini. Semoga membaca.
Siang yang melelahkan, sebenarnya tidak. Tapi karena suasana hatiku siang ini adalah perputaran derajat sedari pagi, Rasanya amat melelahkan. Sepakat tidak sih, sifat manusia bisa berubah dalam sekejap mata, dalam jeda beberapa kata, dan bahkan terjadi antara pergantian qobla menjadi ba'da. Yang merasakannya bukan mereka yang sedang berevolusi. Yang merasakannya adalah mereka yang terintimidasi. Dan aku merasakannya.

Kita berada dalam ruang yang sama, membahas apa saja yang tiba-tiba terlintas untuk dibahas. Kita tertawa, kita berpendapat. Sedikit saling membantah itu biasa di antara kami. Hingga pembahasan itu mengalir dan bermuara pada permintaan sebuah saran. Bersaranlah. Dan waktu sholat tiba. Aku yang sedang berhalangan hanya menunggu di depan kelas, sebelah Musholla. Aku sendiri, aku terbiasa dan aku bahagia. Menunggu adalah aku. Hingga selesai.~

Di sinipun aku merasa akan ada yang tidak beres. Hatiku, mengapa mudah sekali tergores. Aku lelah, wahai diri kapan kamu sukses?. Berbaik sangkalah diri, dirimu beruntung di antara yang menginginkan posisimu. Kamu harus berbaik sangka pada apapun. Termasuk dirimu sendiri, kamu mampu. Begitulah, percakapan diri.

Hijrah tempat. Di bawah sebuah bangunan yang kita sebut lobby, di depannya terpampang nyata taman pepohonan yang anak fakultas bilang castile. Sepertinya cerita berlanjut. Tapi tidak denganku, aku seperti sendiri di tengah riuh do'a manusia yang berlalu lalang melewatiku, aku ikut tertawa dan menyumbang cerita tapi angin nampaknya membawa suaraku ke alam yang berbeda. Lama sekali, mereka tertawa tapi aku menekuk. Mereka bercerita, aku pura-pura tersenyum kepada yang melintasiku. Mereka bahagia, aku bersembunyi dalam itu semua.  Ada yang hilang dalam sekejap mata. Perhatian kalian bisa beralih kapan saja ternyata.

Tapi aku tidak ingin bercerita sedih, justru dengan semesta menampar keras diri ini oleh sebuah kenyataan kesendirian, aku jadi berfikir aku tidak boleh bergantung pada siapapun kecuali Alloh, seseorang yang bahkan kita sebut sahabat, bisa meninggalkan kalian kapan saja, tapi tidak dengan pertolonganNya. Hari ini aku mungkin sedih, tapi dalam hati aku berteriak dalam tekad bahwa aku harus menjadi lebih baik, tanpa menyakiti orang-orang di sekitarku, dan tentunya diri ini harus bisa seperti mereka yang produktif. Bisa jadi, mereka sibuk karena beban batinnya lebih banyak dari aku bukan? Kita tidak pernah tahu. Tugasku adalah selalu baik-baik saja, apapun yang terjadi. Kamu tidak sendiri, kamu bersama bait puisi. Kamu tidak perlu berduka, akan ada kata yang selalu membuatmu bahagia. Teruslah lakukan yang terbaik, maka kamu akan selalu bersama dengan orang yang baik-baik. Selamat berproses Tia :)

#Day11
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Komentar

Postingan Populer