30 HRDC Day 4 : Menulis adalah Keberanian

Referensi : Google

Assalamu'alaikum semua,

jadi ceritanya malam ini aku gas membuat dua cerita sekaligus,karena kemarin aku belum sempat. boleh dilihat di link sini yaa

https://tealaa.blogspot.com/2019/05/30-hrdc-day-3-nasihat-ummi.html

Malam ini aku ingin bercerita tentang sebuah mimpi yang sudah lama kutatap. Belum ku pegang, baru ku sentuh sedikit-sedikit saja. Orang-orang terdekatku pasti tau apa yang aku cita-citakan, apa yang paling menggebu ketika aku bercerita, apalagi kalau bukan sebuah karya tinta. kata-kata yang menyusun banyak paragraf, terbagi menjadi beberapa judul dan membentuk satu buku yang baunya saja aku selalu rindu.

Malam kemarin, paket pesananku dan sahabatku datang. ya, beberapa buku karya sastrawan yang terkenal puitisnya di Instagram. Panji Ramdana, begitulah nama penulisnya. terdengar sangat romantiskan dari namanya juga, aku jadi teringat temanku, nama dia unik selalu membuat aku kesel dan nahan ketawa secara bersamaan, eh apaan si maaf maaf suka khilaf emang. Pokoknya, aku suka semua penulis siapapun itu, karena mereka sudah berani menuangkan isi otaknya ke dalam sebuah karya. genre apapun itu aku juga menghargai,  Alhamdulillah banyak karya anak bangsa yang sudah kubaca, setiap selesai membacanya, hati aku pasti terbangun "kapan lu mulai nulis?  menikmati mulu, katanya mau jadi inspirator,"  yaah, setiap satu buku yang selesai kubaca, ada urusan batin yang tidak pernah selesai ku baca.

"Menulis adalah Keberanian" itu ungkapan salah satu sahabatku, Blue namanya, dia sering menyemangati aku untuk selalu dan jangan pernah berhenti, menuangkan pikiran melalui kata,  aku orangnya sering bikin snap WA, saat orang lain bilang aku bucin, ada satu temanku lagi, yang selalu menyuruh aku jangan menghapus story itu. malah kalau bisa dikumpulin aja katanya. baiklah, saran diterima Do'akan semoga suatu saat berguna.

perihal Menulis adalah keberanian, aku sepakat akan hal itu, 'keberanian'. berani membagi waktu, berani waktunya tersedot, berani menceritakan kisah nyata, berani dengan resiko-resiko, berani gagal, berani berbagi kata, berani, berani, dan banyak berani-berani yang lainnya. Aku sering bilang ke adek kelas aku gini "sukses itu ngga perlu nunggu kepala dua, jangan terlalu percaya kata nanti, kalau bisa sekarang kenapa ngga ?" tapi nyatanya, di sini, akulah yang sedang nyaman dalam kata nanti. aku belum berani, belum berani dengan cerita yang akan mengalir secara aku sering Stuck,  aku belum berani jika aku gagal untuk membuat sebuah buku, aku belum berani jikayang aku sampaikan lewat tulisan ternyata tidak dapat dipahami pembaca. aku belum berani.

do'akan saja ya teman-teman, aku sedang berproses, mengikuti Challange inipun adalah bentuk prosesku, bagaimana konsisten dalam menulis dan tulisan kita diterima. pokonya doain yaa kutunggu komentar yang membangunnya. Maaf sedikit dulu, ada yang harus diselesaikan. iya hak mata ini hehe. nikmati prosesmu, cintai citamu, salam Teneel.

salam hangat untuk Blue, Has dan Kamu.

#Day4
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Komentar

  1. Enaknya yg habis paketan bukunya datang. udah lama gak beli buku via online lagi duitnya buat persiapan anak2 sekolah aja dulu. memang menulis itu proses nya luar biasa. nggak bisa tiba2 nongol ide. Tapi kalau nggak dicari ya gimana ide bisa muncul hihi....

    BalasHapus
  2. Ingat peradaban menunggu gagasan yang kau ramu, segera terbit dan mengubah ,cara pandang yang keliru :))

    BalasHapus
  3. Gagasan yang kau ramu, peradaban menunggu untuk ubah cara pandang yang keliru :)

    BalasHapus
  4. @Mama Indri hehe iya ini patungan beli buku,maklum anak kosan. Gapapa mamah muda, anak² sekolah juga kan beli buku hehe. Do'akan aku agar bisa sukses seperti Mahmud satu ini yak. Nanti kalo aku udah bikin buku, akan kukirim satu untuk @Mama Indri 😂

    BalasHapus
  5. @NinaNurjanah hehe biruku nampak, tetap temani aku merakit perahu ini yak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer